Sebegitu jauh kita sudah mengembangkan pikiran, merambah
keperiadaan yang makro dan mikro, tetapi sedikit sekali kita meluangkan waktu
untuk menengok pikiran. Inilah aneh!
|
Setiap orang tentu percaya, bahwa berpikir
itu lebih dari sekadar pengisi waktu luang selagi kita belum meninggal. Setiap
orang juga percaya, bahwa keingin-tahuan yang bers`ngkut-paut dengan pikiran,
adalah salah satu dari naluri kemanusiaan. Anehnya, sebegitu jauh kita sudah
mengenal hampir segala keperiadaan di dunia ini, tetapi jarang sekali timbul
keingin-tahuan kita terhadap pikiran itu sendiri. Sebegitu jauh kita sudah
mengembangkan pikiran, merambah keperiadaan yang makro dan mikro, tetapi
sedikit sekali kita meluangkan waktu untuk menengok pikiran. Inilah aneh! Akan
lebih aneh lagi, tepatnya lebih membingungkan lagi, kalau kita mendengar apa
yang dikatakan oleh Edward de Bono (1989):
“Hanya ada sedikit harapan, apabila ras
manusia secerdas seperti yang mereka kira (selama ini) tetapi ternyata justru
terbenam di dalam begitu banyak kesulitan”
Artinya,
kemampuan atau keberhasilan kita keluar dari kesulitan hidup menjadi kecil,
seandainya kita benar-benar cerdas seperti yang kita kira selama ini. Pada
kesempatan lain de Bono mengatakan:
“Saya sungguh percaya bahwa hal paling
optimistis mengenai ras manusia adalah kebodohannya yang relatif”.
Tentu
saja, bukan menjadi tujuan de Bono agar kita menumpulkan kemampuan pikiran
sebagai jalan keluar dari persoalan dan kesulitan-kesulitan hidup. Justru
pernyataannya merupakan ajakan bagi kita untuk memahami lebih serius lagi
tentang pikiran yang selama ini kita andalkan sebagai dewa penolong dalam
memecahkan persoalan.
Masih berkaitan dengan
pikiran manusia, dengan ungkapan yang lebih filosofis, salah seorang guru jauh
saya berkata:
Pikiran tidak akan mampu memecahkan
problem manusia yang mana pun. Sebab pikiranlah problem kita satu-satunya
|
“Pikiran, tidak akan mampu memecahkan problem manusia yang
mana pun. Sebab pikiranlah problem kita satu-satunya. Begitulah, saya menjadi
terheran-heran dibuatnya. Bahwa setelah sebegitu jauh kita mengisi bumi ini
dengan pengalaman dan pemikiran, tetapi justru tidak banyak yang berubah dari
perilaku kita. Tidakkah kita sadar, bahwa setiap sesuatu yang kita sentuh,
tiba-tiba berubah menjadi problem?. Bukankah kemerdekaan adalah problem, cinta
adalah problem, berbicara adalah problem, mendengar adalah problem, bekerja
adalah problem?[1]”.
Mungkin Anda agak
terkejut, satu-satunya problem kita, kata beliau, kok pikiran!?. Baiklah kita tunda dulu keheranan Anda itu. Saya
sependapat, bahwa kemerdekaan, cinta, dst. itu ternyata sekarang memang berubah
menjadi problem.
Pikiran adalah piranti lunak yang
diasosiasikan dengan otak, berfungsi membantu kita memahami fakta eksternal
dan pemanfaatan fakta itu untuk kelangsungan hidup manusia.
Oleh karena itu, sebagai alat bantu,
sangatlah penting dipahami bagaimana pikiran kita berperilaku
|
Tetapi apakah pikiran itu? Begitu pentingkah kita memahaminya
– walau serba sedikit – bagaimana pikiran kita bekerja, misalnya?. Tidak
cukupkah kita berpikir begitu saja? Lalu, dapatkah pikiran itu memikirkan
dirinya sendiri? Mari kita jawab serangkaian pertanyaan itu satu per satu:
1. Apakah pikiran
itu? Kita
bikin mudah saja, pikiran adalah piranti lunak yang diasosiasikan dengan otak,
berfungsi membantu kita memahami fakta eksternal dan pemanfaatan fakta itu
untuk kelangsungan hidup manusia. Pada bagian selanjutnya kita akan mengulas
perihal ini lebih rinci lagi
2. Begitu pentingkah
kita memahaminya – walau serba sedikit – bagaimana pikiran kita bekerja, misalnya?. Tidak cukupkah
kita berpikir begitu saja? Telah disebutkan di atas, bahwa pikiran adalah alat bantu
kehidupan kita. Maka dapatlah kita mengambil kias bahwa pikiran adalah seperti
seekor kuda yang membantu kita menempuh perjalanan. Mungkin sekarang mulai agak
jelas, bahwa sudah barang tentu kita musti mengenal karakter kuda itu, dan kita
pulalah yang seharusnya memegang kendalinya bukan? Kalau tidak demikian, maka
justru kitalah yang akan dikendalikan kuda itu. Jadi jelas, berpikir begitu
saja tidak cukup!
3. Dapatkah pikiran
memikirkan dirinya sendiri? Ini analog dengan pertanyaan: “Dapatkah sebuah penggaris
digunakan untuk mengukur penggaris itu sendiri? Ya, tentu saja tidak bisa.
Penggaris itu hanya dapat diukur dengan alat/penggaris lain yang lebih peka!
Jadi, pikiran tidak akan bisa memikirkan dirinya sendiri. Pikiran hanya bisa
dipikirkan dengan alat lain yang lebih peka daya “pikirnya”, atau lebih tinggi
tingkat kesadarannya. Ini tidak lain adalah qalbu.
Pada suatu hari ada
seorang Bapak yang terhormat datang ke kantor Balitbu. Beliau datang, katanya
ingin mendapatkan masukan/kritik sebagai bahan introspeksi atau bercermin.
Sayang, beliau datang dan berkata begitu setelah mau pensiun.
Perhatikan, alangkah luhurnya
tujuan beliau datang ke Balitbu. Tetapi perhatikan lagi, bagaimana beliau itu
bisa berkaca kalau belum ada kepastian: (a) di ruangan tempat berkaca ada
cahaya atau tidak, (b) kacanya bersih atau kotor, dan (c) matanya normal atau
tidak. Kalau ini semua belum terjawab, maka itikad baik hanya tinggal itikadnya
saja, sedangkan baiknya habis menguap bersama kebodohannya. Ya, kalau cahaya itu kita padamkan dengan menjauhi agama, cermin itu kita
kotori dengan perbuatan jahat, dan mata kita butakan dengan hiburan (nama-nama,
alasan-alasan), bagaimana bisa ada introspeksi?
…kita, tentu
harus menggunakan pikiran sebaik mungkin. Tetapi…kita harus mendudukkan
pikiran pada tempatnya, baru kita menggunakannya. Jangan sampai kita mengira
sudah berpikir, ternyata hanya berhayal, atau meniru orang lain berpikir.
|
Dengan jalan pikiran
yang sama, saya bisa mengatakan bahwa Anda, kita, tentu harus menggunakan
pikiran sebaik mungkin. Tetapi, sekarang (semoga) menjadi jelas, bahwa sebelum
itu kita harus tahu dulu, apakah sebenarnya pikiran itu. Ya, kita harus
mendudukkan pikiran pada tempatnya, baru kita menggunakannya. Jangan sampai
kita mengira sudah berpikir, ternyata hanya berhayal, atau meniru orang lain
berpikir. Seperti juga, jangan sampai kita mengira menunggang kuda, tetapi
ternyata yang kita tunggangi keledai. Begitu seterusnya.
Saya ingin mengambil
kesempatan sekaligus menutup bagian pendahuluan ini dengan mengajukan satu
hipotesis:
“Hidup
kita hari ini dikendalikan oleh pikiran, dan bukan sebaliknya”
Ya, kita diperkuda oleh kuda tunggangan kita yang bernama pikiran! Karena kita penunggang kuda yang tidak mengerti karakter kuda kita sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar