Laman

Kamis, 09 Februari 2012

03 - Pendahuluan



Sebegitu jauh kita sudah mengembangkan pikiran, merambah keperiadaan yang makro dan mikro, tetapi sedikit sekali kita meluangkan waktu untuk menengok pikiran. Inilah aneh!

            Setiap orang tentu percaya, bahwa berpikir itu lebih dari sekadar pengisi waktu luang selagi kita belum meninggal. Setiap orang juga percaya, bahwa keingin-tahuan yang bers`ngkut-paut dengan pikiran, adalah salah satu dari naluri kemanusiaan. Anehnya, sebegitu jauh kita sudah mengenal hampir segala keperiadaan di dunia ini, tetapi jarang sekali timbul keingin-tahuan kita terhadap pikiran itu sendiri. Sebegitu jauh kita sudah mengembangkan pikiran, merambah keperiadaan yang makro dan mikro, tetapi sedikit sekali kita meluangkan waktu untuk menengok pikiran. Inilah aneh! Akan lebih aneh lagi, tepatnya lebih membingung­kan lagi, kalau kita mendengar apa yang dikatakan oleh Edward de Bono (1989):
“Hanya ada sedikit harapan, apabila ras manusia secerdas seperti yang mereka kira (selama ini) tetapi ternyata justru terbenam di dalam begitu banyak kesulitan”
Artinya, kemampuan atau keberhasilan kita keluar dari kesulitan hidup menjadi kecil, seandainya kita benar-benar cerdas seperti yang kita kira selama ini. Pada kesempatan lain de Bono mengatakan:
“Saya sungguh percaya bahwa hal paling optimistis mengenai ras manusia adalah kebodohannya yang relatif”.
            Tentu saja, bukan menjadi tujuan de Bono agar kita menumpulkan kemampuan pikiran sebagai jalan keluar dari persoalan dan kesulitan-kesulitan hidup. Justru pernyataannya merupakan ajakan bagi kita untuk memahami lebih serius lagi tentang pikiran yang selama ini kita andalkan sebagai dewa penolong dalam memecahkan persoalan.
Masih berkaitan dengan pikiran manusia, dengan ungkapan yang lebih filosofis, salah seorang guru jauh saya berkata:

Pikiran tidak akan mampu memecahkan problem manusia yang mana pun. Sebab pikiranlah problem kita satu-satunya
“Pikiran, tidak akan mampu memecahkan problem manusia yang mana pun. Sebab pikiranlah problem kita satu-satunya. Begitulah, saya menjadi terheran-heran dibuatnya. Bahwa setelah sebegitu jauh kita mengisi bumi ini dengan pengalaman dan pemikiran, tetapi justru tidak banyak yang berubah dari perilaku kita. Tidakkah kita sadar, bahwa setiap sesuatu yang kita sentuh, tiba-tiba berubah menjadi problem?. Bukankah kemerdekaan adalah problem, cinta adalah problem, berbicara adalah problem, men­dengar adalah problem, bekerja adalah problem?[1]”.
            Mungkin Anda agak terkejut, satu-satunya problem kita, kata beliau, kok pikiran!?. Baiklah kita tunda dulu keheranan Anda itu. Saya sependapat, bahwa kemerdekaan, cinta, dst. itu ternyata sekarang memang berubah menjadi problem.
Pikiran adalah piranti lunak yang diasosiasikan dengan otak, berfungsi membantu kita memahami fakta eksternal dan pemanfaatan fakta itu untuk kelangsungan hidup manusia.

Oleh karena itu, sebagai alat bantu, sangatlah penting dipahami bagaimana pikiran kita berperilaku
            Tetapi apakah pikiran itu? Begitu pentingkah kita memahaminya – walau serba sedikit – bagai­mana pikiran kita bekerja, misalnya?. Tidak cukupkah kita berpikir begitu saja? Lalu, dapatkah pikiran itu memikirkan dirinya sendiri? Mari kita jawab serangkaian pertanyaan itu satu per satu:
1.  Apakah pikiran itu? Kita bikin mudah saja, pikiran adalah piranti lunak yang diasosiasikan dengan otak, berfungsi membantu kita memahami fakta eksternal dan pemanfaatan fakta itu untuk kelangsungan hidup manusia. Pada bagian selanjutnya kita akan mengulas perihal ini lebih rinci lagi
2.  Begitu pentingkah kita memahaminya – walau serba sedikit – bagai­mana pikiran kita bekerja, misalnya?. Tidak cukupkah kita berpikir begitu saja? Telah disebutkan di atas, bahwa pikiran adalah alat bantu kehidupan kita. Maka dapatlah kita mengambil kias bahwa pikiran adalah seperti seekor kuda yang membantu kita menempuh perjalanan. Mungkin sekarang mulai agak jelas, bahwa sudah barang tentu kita musti mengenal karakter kuda itu, dan kita pulalah yang seharusnya memegang kendalinya bukan? Kalau tidak demikian, maka justru kitalah yang akan dikendalikan kuda itu. Jadi jelas, berpikir begitu saja tidak cukup!
3.  Dapatkah pikiran memikirkan dirinya sendiri? Ini analog dengan pertanyaan: “Dapatkah sebuah penggaris digunakan untuk mengukur penggaris itu sendiri? Ya, tentu saja tidak bisa. Penggaris itu hanya dapat diukur dengan alat/penggaris lain yang lebih peka! Jadi, pikiran tidak akan bisa memikirkan dirinya sendiri. Pikiran hanya bisa dipikirkan dengan alat lain yang lebih peka daya “pikirnya”, atau lebih tinggi tingkat kesadarannya. Ini tidak lain adalah qalbu.
Pada suatu hari ada seorang Bapak yang terhormat datang ke kantor Balitbu. Beliau datang, katanya ingin mendapatkan masukan/kritik sebagai bahan introspeksi atau bercermin. Sayang, beliau datang dan berkata begitu setelah mau pensiun.
Perhatikan, alangkah luhurnya tujuan beliau datang ke Balitbu. Tetapi perhatikan lagi, bagaimana beliau itu bisa berkaca kalau belum ada kepastian: (a) di ruangan tempat berkaca ada cahaya atau tidak, (b) kacanya bersih atau kotor, dan (c) matanya normal atau tidak. Kalau ini semua belum terjawab, maka itikad baik hanya tinggal itikadnya saja, sedangkan baiknya habis menguap bersama kebodohannya. Ya, kalau cahaya itu kita padamkan dengan menjauhi agama, cermin itu kita kotori dengan perbuatan jahat, dan mata kita butakan dengan hiburan (nama-nama, alasan-alasan), bagaimana bisa ada introspeksi?

…kita, tentu harus mengguna­kan pikiran sebaik mungkin. Tetapi…kita harus menduduk­kan pikiran pada tempatnya, baru kita menggunakannya. Jangan sampai kita mengira sudah berpikir, ternyata hanya berhayal, atau meniru orang lain berpikir.
Dengan jalan pikiran yang sama, saya bisa mengatakan bahwa Anda, kita, tentu harus menggunakan pikiran sebaik mungkin. Tetapi, sekarang (semoga) menjadi jelas, bahwa sebelum itu kita harus tahu dulu, apakah sebenarnya pikiran itu. Ya, kita harus mendudukkan pikiran pada tempatnya, baru kita menggunakannya. Jangan sampai kita mengira sudah berpikir, ternyata hanya berhayal, atau meniru orang lain berpikir. Seperti juga, jangan sampai kita mengira menunggang kuda, tetapi ternyata yang kita tunggangi keledai. Begitu seterusnya.
Saya ingin mengambil kesempatan sekaligus menutup bagian pendahuluan ini dengan mengajukan satu hipotesis:
“Hidup kita hari ini dikendalikan oleh pikiran, dan bukan sebaliknya”


Ya, kita diperkuda oleh kuda tunggangan kita yang bernama pikiran! Karena kita penunggang kuda yang tidak mengerti karakter kuda kita sendiri.


[1] Tidakkah Anda juga ter­heran-heran, bukankah Balitbu juga problem?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar